Dulu ketika aku masih di Bandung, aku sering menghabiskan malam dengan minum teh manis hangat. Entahkan itu teh buatan sendiri atau teh buatan sukarelawan pemilik lesung pipi, atau teh manis buatan adik kecilku yang baik hati. Dan entah sejak kapan aku mulai menyukai minum teh ataukah waktu-waktu menikmati kehangatan teh itu sendiri, aku pun sudah tak tahu pasti. Namun, kebiasaan minum teh sudah menjadi jadwalku setidaknya satu kali dalam seminggu.
Setelah aku hijrah ke Jakarta karena terpaksa (jika saja aku sudah mendapatkan pekerjaan impianku sebelum hari ultimatum orang tuaku), aku sudah hampir tidak pernah menikmati waktu-waktu minum teh seperti kebiasaanku sebelumnya. Pernah satu kali teman satu kosanku yang baru membuatkan aku teh manis di pagi hari. Ketika aku menyeguk cangkir itu dalam-dalam, aku tidak menumukan teh manis itu sama rasanya dengan teh manis yang pernah kuserup sewaktu aku di Bandung.
Apakah karena dia memang tidak pandai membuat teh manis ataukah mungkin karena lokasi aku menikmati teh manis itu sendiri? Kali ini pun aku masih tidak tahu pasti. Yang jelas rasa teh itu membuatku enggan meletakkan bibir cangkir itu kembali ke mulutku.
Setelah teh manis pertamaku di Jakarta itu, aku mendapatkan teh manis ke dua yang rasanya bisa menyamai teh manis yang sering kunikmati ketika di Bandung. Teman kantorku yang membuatkannya. Hahahaha…, aku tidak mengira sampai hari ini pun dia masih membuatkannya untukku. Awalnya karena sebuah taruhan saja mengapa teh manis itu bisa melewati tenggorokanku dengan gratis dan tanpa susah payah membuatnya. Kami, aku dan temanku ini sedang membahas sebuah kutipan ayat dalam Alkitab dan aku menebak kitab dan pasal ayat tersebut. Temanku ini bertaruh jika kutipan ayat tersebut bukan berasal dari kitab dan ayat seperti terkaanku itu. Lalu kami pun sepakat jika terkaanku benar, maka dia harus membuatkanku teh manis hangat keesokan harinya, dan luckily, aku menang. Sejak saat itu dia masih saja menawariku teh manis hangat, bahkan ketika aku tidak memintanya, tiba-tiba dia datang dan menyodoriku secangkir teh manis hangat di sore hari.
Setiap kali aku menyerup teh manis itu, aku akan teringat secangkir teh manis hangat yang pernah mencuri waktuku ketika di Bandung, teh manis penghangat hati…aku benar-benar rindu…
18 Mei 2010
@my office
(disaat-saat santai sambil menahan sakit)
salam kenal, saya minta izin krn gambarnya saya pakai.
http://imajikusendiri.blogspot.com/2010/08/senandika-teh-tanpa-gula-1.html
Pake aja, saya juga ambil dari google kok…
. Salam kenal juga Tri Purna Jaya….