Sebenarnya sudah lama saya ingin mem-publish tulisan saya yang satu ini, namun rasanya masih saja ada yang kurang setiap kali saya ingin merevisinya. Saya kira saya tidak akan pernah menerbitkannya di blog saya lagi setelah tulisan ini terkubur sekitar 3 bulan di desktop saya. Well, akhirnya hari ini saya berhasil menuntaskan revisi tulisan perjalanan saya ke Lampung tahun lalu. Enjoy it..
Tanggal 14-16 Oktober 2011 kemarin adalah kali pertama dalam hidup saya untuk bisa ikut dalam kegiatan baksos. Ya, saya mengakui saya memang masih pemula dengan hal-hal seperti ini. Buat agan-agan yang sudah pernah jungkir balik ikut baksos atau sudah pernah jadi volunteer ketika beberapa daerah terkena bencana alam, saya ancungi 4 jempol. ![]()
Awalnya saya tidak begitu tertarik mengikuti baksos ini. Why? ‘coz toh kerjaan di kantor juga masih banyak, tenaga dan pikiran saya sudah terkuras di sana, jadi baksos bakalan cuma dapat sisa-sisa kekuatan saya saja. Tapi kemudian saya tidak bisa melupakan senyum mereka, orang-orang yang bahkan tidak saya kenal … ![]()
14 Oktober 2011
Jumat pagi saya sudah menghubungi atasan saya untuk izin pulang lebih awal dari kantor karena menurut jadwal, saya sudah harus tiba di GOR Otista pukul 20:00 wib. Dan temen-temen pasti tahu bagaimana kepadatan Jakarta ketika weekend akan tiba, wuih jalan ke arah pintu tol pasti penuh sesak.
Begitulah, perjalanan saya yang “menyenangkan” ini harus saya lalui sekitar 1,5 jam dari Grogol menuju Otista. Pantat saya seperti habis disuntik obat bius, kebal karena sangkin lamanya duduk di jok motor. ![]()
Kira-kira pukul 21:00 wib rombongan panita meluncur ke pelabuhan Merak. Seharusnya panitia mengambil istirahat yang cukup waktu itu mengingat keesokan paginya kami harus mengerahkan tenaga di lapangan. Namun mukjizat terjadi, kami TIDAK BISA TIDUR! Ya iyalah, gimana bisa tidur kalo ada MC kondang dadakan yang merangkap sebagai ketua acara memperdengarkan suara merdunya membahas semua hal di depan mimbar bus? Hehehehe, sesuatu banget memang MC kondang ini, begitu bersemangatnya malam itu sekalipun semua panitia sudah benar-benar ingin memejamkan mata.
15 Oktober 2011
Perjalanan dengan kapal pun aman dan terkendali. Rombongan tiba di Lampung (rest area bus) pukul 04:20 wib, yaitu lebih cepat 1,5 jam dari perkiraan (sepertinya si supir bawa NOS dari Jakarta..hehehe). Lanjutkan Pak!!
Yang uniknya, ketika tiba di rest area, semua panitia langsung melanjutkan tidur di saung-saung yang tersedia di rest area tersebut. Jadi cuma pindah tempat tidur doang dari bus ke lantai saung-saung tersebut..hahaha. Baru kira-kira pukul 06:00 wib mulailah beberapa panitia numpang mandi di toilet yang tersedia. Saya bisa melihat wajah bingung dicampur dengan rasa sungkan penjaga toilet itu untuk menghentikan kami menghabiskan seluruh persediaan air mereka. TUHAN memberkati bapak penjaga yang murah hati, kiranya persediaan airnya melimpah ruah sejak kehadiran kami… Amin. ![]()
Panitia pun kemudian melanjutkan perjalanan ke desa Moromoro (alias desa Sukamakmur). Sepanjang perjalanan, hanya ada kebun singkong dan karet dalam pemandangan mata saya. Kering, singkong para petani ini berjuang melawan dehidrasi berkepanjangan. Dalam imajinasi saja, jika saja tiba-tiba hujan melanda wilayah itu, maka semua pohon singkong yang mematung di lahan ratusan hektar tersebut akan tiba-tiba dapat menari meliuk-liuk (layaknya almarhum Michael Jackson) karena terlalu gembira.
Setelah molor hampir 1 jam dari jadwal karena insiden mandi pagi di rest area, panita lantas bergegas berhamburan keluar setelah bus yang disewa meletakkan “pantatnya” di halaman sekolah yang sebentar lagi akan disulap menjadi tempat pengobatan gratis titik pertama.
Panas terik dan berdebu itulah kesan pertama ketika saya melangkahkan kaki keluar dari bus. Charger pertama yang saya dapatkan setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam adalah senyum dan wajah mereka yang polos. Saya merasa mendapatkan suntikan vitamin C ketika melihat mereka mulai berbondong-bondong berkumpul di halaman sekolah. Kebanyakan yang datang adalah orang tua.
Pengobatan gratis ini panitia bagi menjadi 2 titik, yaitu titik pertama dan titik kedua. Di titik pertama pengobatan difokuskan kepada orang dewasa, sedangkan di titik kedua pengobatan difokuskan bagi ibu hamil dan anak-anak/balita. Selain pengobatan gratis, panitia juga menggelar penyuluhan pertanian di pos pertama. Nah, untuk acara pembukaannya diadakan di lokasi pengobatan titik pertama. Jadi, semua rombongan berhenti sejenak di titik pertama untuk mengikuti opening baksos.
Sebelum opening berlangsung, kami pun mulai mengeluarkan obat-obatan dan beberapa peralatan medis lainnya. Seperti acara pembukaan pada umumnya, tetua di sana memberikan beberapa kata sambutan. Then we pray! Kita berdoa biar acara yang sudah dipersiapkan oleh panitia bisa berjalan dengan lancar dan menjadi berkat bagi warga di sana.
Kebetulan saya dan satu lagi rekan saya (seorang perawat) bertugas di pos titik kedua sebagai juru obat, yaitu yang bertugas menyediakan obat-obatan sesuai dengan resep dokter. Jujur saja, ketika saya ditugaskan untuk menjadi juru obat, saya deg-degan banget. Ya iyalah, secara gitu saya anak teknik disodorin pekerjaan membaca resep dokter, bisa keriting rambut saya. :p Tapi Puji TUHAN, saya hanya butuh beberapa menit untuk bisa beradaptasi dengan tulisan tangan dokter serta nama-nama obat. Di menit-menit berikutnya saya sudah menikmati tugas sebagai juru obat tersebut sekalipun beberapa kali pos kami kehabisan beberapa jenis obat dan harus meminta panitia lain mengambilkannya dari pos titik pertama. What a busy day!
Warga yang sakit lumayan banyak di pos dua ini. 98% dari mereka adalah ibu-ibu dan anak-anak. Kebanyakan dari mereka menderita gizi buruk yang disebabkan oleh pasokan makanan yang tidak seimbang (lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat atau jenis umbi-umbian). Pengetahun mereka tentang kandungan gizi dalam makanan pun sangat minim (baca : hampir tidak ada yang tahu contoh makanan apa saja yang mengandung protein, bahkan ada ibu-ibu yang tidak tahu jenis apakah protein itu).
Berkat dukungan tim panitia yang cukup solid, pos kami (titik dua) berhasil menyelesaikan tugas lebih cepat dari yang ditargetkan. Namun saya kemudian harus merasa kecewa dengan kinerja pos juru obat kami lantaran resep yang seharusnya kami simpan sebagai dokumentasi dengan polosnya kami kembalikan lagi kepada semua passien setelah mereka mendapatkan obat. Hehehehe… Alhasil Kak Duma (seorang dokter yang membantu di pos dua) tampang wajah “shock” karena resep obat tersebut sebenarnya akan digunakan untuk mendata penyakit apa saja yang paling banyak diderita oleh warga setempat dan untuk mengkalkulasi kembali inventori obat-obatan yang telah digunakan selama baksos. Well, mungkin lain kali saya tidak akan bersikap “polos” lagi deh.. Janji! hehehehe ![]()
Semua panitia di pos dua langsung meluncur ke pos satu untuk membantu tim di pos satu. Sebelumnya kami sempat berkunjung ke tenda pengungsian warga yang lahannya digusur oleh pemerintah karena mereka tidak memiliki surat tanah dan surat izin membangun (IMB). Yup, kebanyakan warga di sana adalah pendatang yang kemudian dengan “polosnya” memanfaatkan lahan tidur pemerintah selama bertahun-tahun tanpa mengurus surat tanah ataupun surat izin membangun.
Hati saya miris melihat kamp-kamp pengungsian itu. Dalam satu tenda bisa berisi lebih dari 8 kepala keluarga. Mereka kebanyakan adalah ibu-ibu dan anak-anak. Menurut penuturan salah satu aktivis pemuda di sana, mereka digusur dari lahan pemerintah tanpa sempat berkemas, bahkan sebelum mereka sempat memanen hasil pertanian mereka yang tinggal beberapa minggu lagi. Tidak heran jika beberapa ibu-ibu yang menyambut kunjangan kami ada yang berurai air mata. Saya jadi ingat zaman penjajahan di negeri kita dahulu kala, seperti inikah? ![]()
Panitia mendonasikan buku dan pakaian bekas kepada para pengungsi tersebut. Rasanya senang sekali bisa sedikit membantu mereka. Saya tidak akan pernah melupakan senyum dan tatapan mereka. “Saya sungguh beruntung”, gumam saya pada nurani sambil kembali melanjutkan perjalanan ke pos dua.
Matahari hampir terbenam ketika kami selesai membantu pos dua berkemas. Acara selanjutnya adalah mengunjungi rumah salah satu hamba TUHAN yang merintis pelayanan di desa Moromoro untuk makan malam. Rencananya kami juga akan memberikan bantuan dana pendidikan kepada beberapa anak yang tidak mampu. Per FREE (kelompok tumbuh GKKD Kuningan) diberikan kesempatan untuk mengadopsi satu anak untuk dibantu biaya pendidikannya selama satu tahun. Selain bantuan dana, kami juga memberikan bantuan baku-buku bekas, pakaian bekas, dan susu cair kepada jemaat setempat.
Oh ya, WC disana masih terpisah dari rumah. Kebanyakan bahkan masih berupa WC sangat-sangat sederhana. Kenapa saya bilang sangat-sangat sederhana, ya karena memang jauh berbeda dengan WC yang sering kita gunakan di rumah. Kondisi WC ini bahkan hanya berdindingkan terpal atau plastik karung, hanya setinggi 75cm (sepinggul saya – tinggi saya saja hanya 153cm lho) dan TANPA atap. Tempat membuang kotoran (maaf yah) pun hanya berupa lubang yang mereka gali cukup dalam kemudian di atasnya ditutup dengan papan dan diberi celah agar kotoran bisa terjun bebas ke dalam lubang tersebut. Asli deh waktu itu saya dan teman-teman wanita yang ingin buang air kecil kewalahan celingak-celinguk mengawasi apakah ada kaum adam yang berseliweran atau tidak karena WC tersebut jelas-jelas tidak aman karena dinding yang begitu rendah.
Setelah berhasil buang air kecil sekaligus sport jantung, kami lantas berkunjung ke gedung gereja yang ternyata tidak jauh dari lokasi WC tersebut. Gedung gereja yang sangat sederhana (lagi-lagi saya harus menggunakan kosakata ini) bisa dibandingkan dengan gedung gereka kebanyakan di Jakarta. Ukurannya mungkin hanya seluas 4×5 meter persegi dengan dinding kayu dan lantai tanah. Dindingnya pun diset untuk bisa dibongkar dan dipasang kembali jika ternyata jemaat yang datang melebihi kapasitas gedung. Jadi jika jemaat yang datang banyak, mereka akan beribadah tanpa dinding untuk memperluas jarak pandang ke mimbar. Guys, kita yang beribadah di gedung-gedung mewah harusnya lebih khusyuk dan lebih bersyukur lagi.
Well, setelah genap seluruh acara di desa Moromoro, panitia langsung memenuhi bus untuk bertolak ke Jakarta. Malam ini akan menjadi malam yang panjang…hehehehe
15 Oktober 2011
Kira-kira pukul 5 pagi hari kami tiba di pelabuhan Merak-Jakarta dengan tampang kucel karena kemarin hanya mandi di pagi hari saja.
Cuaca pagi itu bersahabat dan seperti biasa udaranya lebih menyesakkan dibandingkan dengan di Lampung. Yang ada dipikiran saya adalah MANDIIIIIIII dan TIDUUUUURRRR… Hmmm, saya banyak sekali pelajaran selama dua hari ini. Pelajaran yang paling berarti adalah mengenai bersyukur. Seringkali saya lupa untuk bersyukur (gaji kuranglah, kerjaan kantor banyaklah, perjalanan kosan-kantor yang lama dan macetlah, dan segudang kakak adik keluhan yang lainnya). Saya senang sekali bisa membidik moment-moment indah selama di desa Moromoro dengan “lensa kamera” kehidupan saya. Ini akan jadi pengalaman tak terlupakan yang suatu saat nanti ingin saya ulangi. ![]()
Saya percaya apa yang sudah ditabur di desa Moromoro tidak akan kembali dengan sia-sia. Akhir kata, biarlah segala kemuliaan hanya bagi DIA. May GOD bless Lampung and Indonesia..












The Last 10 comment