Pemburu Tawa

Menyajikan dunia dalam kaca dengan semua lika-likunya

My mom 7 May 2017

Filed under: Life,Uncategorized — Priska Apriani @ 4:13 pm
Tags:

Wuihhh…blog ini udah berdebu banget. Terakhir nulis tanggal 17 Maret 2012. Sering banget pengen nulis di blog tapi entah kenapa selalu gak kesampean. Well, kali ini berhubung ada kesempatan, jadi pengen nulis tentang nyokap.

Nyokap adalah sosok paling penting dalam hidup gw. She knows me best. Kalo harus ngegambarin nyokap dengan satu kata, maka kata yang bakal keluar adalah “teman”. (more…)

Advertisements
 

Konflik 24 July 2017

Siapa yang tidak pernah berkonflik? Semua pasti pernah. Saya adalah gadis kecil penakut kala itu, yang bahkan untuk meminjam sesuatu dari tetangga pun harus meminta adik saya yang melakukannya.

Pernah satu ketika saya bahkan tidak berani membela adik saya di depan orangtua teman kami yang protes dan marah-marah karena kami dituduh menipu anaknya. Hari itu saya gagal sebagai seorang kakak. Hingga saat ini, hal itu adalah salah satu hal yang saya sesalkan dalam hidup saya, menjadi seorang pengecut.

Waktu berlalu dan saya menjadi dewasa. Belajar dari kesalahan, dipaksa untuk menjadi lebih berani di mimbar pelayanan youth dan mahasiswa kala itu membuat saya menjadi seperti bara api. Pedas.

Ada beberapa pengalaman konflik yang akan saya ceritakan kali ini. Pengalaman-pengalaman ini menjadi guru yang mengajari saya bagaimana “menari di atas badai”.

Dosenku oh dosenku

Berani mengkritik dosen di portal web kampus yang dapat dibaca oleh semua mahasiswa bahkan rektor? Saya pernah. Ini saya lakukan bukan karena saya kurang kerjaan atau mau cari sensasi. Saya kesal! Saya marah! Dosen saya mengumumkan hasil test kami dengan tidak transparan. Beliau tidak mengembalikan paper test kami. Kami bahkan tidak tahu di mana letak kesalahan kami. Protes pun tidak akan bisa, lha barang bukti yang mau diprotes juga entah kemana? Saya mendapat nilai 30-an waktu itu. Nilai paling rendah sepanjang sejarah perkuliahan. Nilai akhir untuk mata kuliah tersebut pun adalah D. Itu artinya saya harus mengulang di semester depan.

Anehnya, teman saya yang tidak menjawab salah satu pertanyaan test malah mendapat nilai 100 (sempurna – red). Beberapa senior saya bahkan juga kecipratan sial. Banyak yang mengeluh dan bisik-bisik dibelakang. Saya yang baru berada di kampus 2 tahun lantas berinisiatif untuk melaporkan masalah ini di portal web kampus. Kebetulan memang kampus saya menyediakan fasilitas untuk saran, kritik, atau pertanyaan di portal tersebut. Semua bisa melihatnya, termasuk rektor. Saya berharap kritik saya pada ketidakadilan yang dilakukan oleh dosen saya ini dapat dibaca oleh pihak yang berwenang untuk menegurnya.

(more…)

 

Saya Sekarang Guru (lama) 17 July 2017

Seharusnya tulisan ini saya buat ketika awal-awal menjabat menjadi guru di Bandung. Entah kenapa, baru sekarang saya berniat menulis sesuatu tentang pengalaman saya menjadi guru. Awalnya sih karena bingung juga bagaimana membalas comment di blog saya tentang salah satu tulisan saya ini . Sudah lama saya meninggalkan dunia ST, saya jadi sedikit gagap jika harus melayani berbagai pertanyaan seputar software testing. Well, saya harus move on nih ke profesi yang sekarang. Semoga banjir pertanyaan atau komentarnya beralih ke tulisan tentang dunia yang sedang saya geluti ini.

Tahun 2011 akhir. Saya masih ingat pagi sekali saya menerima sms dari kepala sekolah salah satu SD swasta di Bandung yang telah saya kirim surat lamaran sejak 1 tahun sebelumnya. Saya diundang interview ke Bandung. Sontak saya kaget. Saya kira surat lamaran saya tahun lalu (2010) tidak cukup menarik bagi mereka sehingga saya tidak pernah dipanggil. Eh, dipanggil untuk interviewnya setahun kemudian. Jalan Tuhan memang tidak bisa ditebak yah. (more…)

 

Gereja Lokal 17 March 2012

Filed under: Christianity,Kesaksian,Life — Priska Apriani @ 12:55 am

Malam-malam begini memang agak sedikit aneh kalau saya kemudian punya semangat ’45 untuk menulis. 🙂 Maklum, beberapa pekan terakhir saya disibukkan dengan deadline UAT yang membuat masa-masa lembur saya ibarat saat-saat perang antara Palestina dan Israel (lho?? kok nyasarnya jauh ya? hehehe). Well, kabar baiknya yah hari ini saya tergerak untuk menulis di blog yang “berdebu” ini.

Hmm, kali ini saya ingin menceritakan bagaimana saya bisa “terjerembab” ke dalam komitmen gereja lokal di Jakarta. Yang pasti, ketika saya melangkahkan kaki keluar dari kota Bandung untuk bekerja di Jakarta, 100% logika saya memutuskan tidak akan kembali ke gereja yang sama. Alasannya? BOSAN. Saya hanya ingin mencoba sesuatu yang baru. #dasarbadung

Minggu pertama saya di Jakarta, petualangan mencari gereja lokal yang tepat pun dimulai. Teman seperjuangan saya mengajak beribadah di salah satu gereja yang lumayan terkenal di daerah Jakarta Selatan. Hampir setiap ibadahnya selalu penuh dengan kombinasi yang pas antara jumlah pemuda remaja dengan jumlah orang tua yang berjemaat. Pendeta yang berkotbah pun sangat “enak” membawakan Firman TUHAN. Gaya bicara mereka sederhana dan selalu “menginjak bumi”. Saya merasa sangat diberkati. Di dalam hati, saya men-checklist gereja tersebut sebagai salah satu pilihan yang masuk akal.

(more…)

 

Moromoro : A Journey of Love 19 January 2012

Filed under: Artikel,Life — Priska Apriani @ 4:35 pm

Sebenarnya sudah lama saya ingin mem-publish tulisan saya yang satu ini, namun rasanya masih saja ada yang kurang setiap kali saya ingin merevisinya. Saya kira saya tidak akan pernah menerbitkannya di blog saya lagi setelah tulisan ini terkubur sekitar 3 bulan di desktop saya. Well, akhirnya hari ini saya berhasil menuntaskan revisi tulisan perjalanan saya ke Lampung tahun lalu. Enjoy it..

Tanggal 14-16 Oktober 2011 kemarin adalah kali pertama dalam hidup saya untuk bisa ikut dalam kegiatan baksos. Ya, saya mengakui saya memang masih pemula dengan hal-hal seperti ini. Buat agan-agan yang sudah pernah jungkir balik ikut baksos atau sudah pernah jadi volunteer ketika beberapa daerah terkena bencana alam, saya ancungi 4 jempol. 😀

Awalnya saya tidak begitu tertarik mengikuti baksos ini. Why? ‘coz toh kerjaan di kantor juga masih banyak, tenaga dan pikiran saya sudah terkuras di sana, jadi baksos bakalan cuma dapat sisa-sisa kekuatan saya saja. Tapi kemudian saya tidak bisa melupakan senyum mereka, orang-orang yang bahkan tidak saya kenal … 🙂

(more…)

 

Higher Deeper 10 October 2011

Filed under: Music — Priska Apriani @ 3:36 pm

Belakangan ini saya senang sekali mendengarkan albumnya TW Youth yang Higher Deeper. Salah satu lagu dari album itu yang selalu punya tempat dalam hati saya adalah track ke-4 yang berjudul “Higher and Deeper”. Lagu ini dibuka dengan suara seorang cowok yang renyah :p. Arrasement nya juga sederhana, tapi justru membuat lagu ini bener-bener enak buat penyembahan yang tenang (intimacy with God).

 

Tiap kali denger lagu ini, saya seperti di bawa ke dalam skenario penyembahan perempuan berdosa yang memecahkan buli-buli wewangian dan mengurapi kaki Yesus.
 
“Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu MEMBASAHI kaki-Nya itu dengan AIR MATANYA dan MENYEKANYA dengan RAMBUTNYA, kemudian ia MENCIUM KAKINYA dan MEMINYAKINYA dengan minyak wangi itu.” (Lukas 7 : 37-38 )
 
(more…)

 

Home Sweet Home 15 September 2011

Filed under: Life — Priska Apriani @ 4:17 pm

Hanya 2 kali dalam hidup pernah merasakan rindu yang teramat dalam dengan rumah sejak memutuskan merantau ke tanah Jawa. Pertama kali muncul ketika saya sakit demam di kosan tercinta (Hegar Asih) semasa kuliah dulu. Tidak punya sanak family di Bandung, sedangkan teman-teman kosan saat itu sedang banyak yang berada di luar kosan, alhasil demam ini berhasil membuat saya rindu hingga ngilu (alah!) dengan keluarga di Bangka.


Nyokap adalah orang pertama yang akan mencarikan saya obat jika beliau tahu saya sakit. Nyokap juga akan buru-buru ke dapur membuatkan saya bubur paling enak untuk lidah saya yang terasa pahit. Jika saya menggigil, nyokap akan membongkar semua selimut yang disimpannya di dalam lemari pakaian kemudian membalutnya ke tubuh saya. Beliau orang pertama yang saya butuhkan di masa-masa seperti itu. Jadi, wajar saja jika saya merindu hingga ngilu, berharap nyokap ada di depan saya waktu itu dan bertanya “mau makan apa kau inang?” (hehehe, tetep yah kalimat berbau sara (baca : makanan) yang saya ingat duluan).


Kali kedua saya merindu hingga ngilu adalah saat saya kembali ke Jakarta setelah 10 hari libur lebaran ke rumah. Nggak boleh inget rumah, kalo inget rumah, pasti air mata bisa banjir ke lantai. Sedikit alay memang, tapi ini kisah nyata sodara-sodara..hehehe


(more…)